Rabu, 02 Desember 2015

Asal satu Salah versi Usul Nama Pandeglang


Asal satu Salah versi Usul Nama Pandeglang

Di sebuah kerajaan, tinggalah seorang putri raja bernama Putri Arum. Suatu hari, Putri Arum sedang bersedih. Seorang pangeran jahat bernama Pangeran Cunihin datang melamarnya. Meskipun tampan, pangeran itu sangat kejam dan licik. Putri Arum enggan menjadi istrinya.
Lamaran Pangeran Cunihin sangat sulit untuk ditolak. Jika Putri Arum menolak lamarannya, Pangeran Cunihin akan menghancurkan kerajaan tempat tinggalnya. Putri Arum lalu bersemadi meminta petunjuk agar terbebas dari belenggu Pangeran Cunihin.
Dalam semadinya, ia mendapat sebuah petunjuk. Putri Arum harus menenangkan diri di Bukit Manggis. Di bukit itu, akan datang seorang pangeran sakti yang mampu menyelamatkannya.
Setelah sekian lama menunggu, pangeran impian itu tidak kunjung datang. Putri Arum sangat gelisah sebab sebentar lagi Pangeran Cunihin akan datang untuk menikahinya.
Tidak terasa air mata membasahi pipinya. Hancur sudah harapannya. Kini, ia harus menikah dengan seorang pangeran yang sangat kejam.
Tiba-tiba, datanglah seorang kakek mendekatinya. Kakek itu bertanya, “Maaf, siapakah engkau dan mengapa engkau menangis?”
Putri Arum menengadahkan wajahnya. Dilihatnya sosok lelaki tua yang bersahaja itu. Ia lalu menjawab, “Aku Putri Arum. Aku saat ini sedang sedih, Kek. Sebentar lagi aku akan menikah dengan seorang pangeran jahat yang tidak aku cintai.”
“Oh, malang benar nasibmu, Tuan Putri. Kalau hamba boleh tahu, siapakah pangeran jahat itu?” tanya kakek.
“Ia adalah Pangeran Cunihin, Kek,” ujar Putri Arum sesenggukan.
“Lalu, mengapa Tuan Putri berada di bukit ini?” tanya kakek.
Putri Arum menghapus air matanya dan berkata, “Ketika aku sedang bersemadi, aku diberi petunjuk agar menenangkan diri di Bukit Manggis. Kelak akan datang seorang pangeran sakti yang dapat menolongku. Tapi, hingga kini pangeran itu tidak kunjung datang. Sebentar lagi, Pangeran Cunihin pasti akan datang ke istana untuk menikahiku.”
Kakek mendengar cerita Putri Arum seraya mengangguk-anggukkan kepala. Ia merasa iba kepada putri cantik itu.
Putri Arun lalu bertanya, “Maaf Kek, aku terlalu hanyut dengan kesedihanku. Aku sampai lupa menanyakan nama Kakek.”
“Nama hamba Ki Pande . Hamba adalah seorang pembuat gelang. Tuan Putri boleh memanggil hamba Ki Pande,” ujar kakek itu.
Ki Pande lalu melanjutkan,”Maaf Tuan Putri, bolehkan hamba member saran atas masalahmu itu?”
“Silakan, Ki Pande,” ujar Putri Arum.
“Begini Tuan Putri, menurut hamba, sebaiknya Tuan Putri terima saja lamaran itu,” ujar Ki Pande.
“Apa? Menerima lamaran Pangeran Cunihin yang kejam? Tidak Ki Pande, aku tidak akan menikah dengannya. Aku lebih baik mati daripada menjadi istri seorang pangeran yang bengis,” ujar Putri Arum.
“Tenang Tuan Putri, dengarkan saran hamba dulu. Tuan Putri terima saja lamarannya, tapi berikan sebuah persyaratan. Buatlah sebuah yang sangat sulit sehingga mustahil untuk dikabulkan,” ujar Ki Pande.
“Tapi, Pangeran Cunihin sangat sakti. Ia mampu melakukan apa saja,” ujar Putri Arum.
“Baiklah, hamba akan member usul mengenai persyaratan yang harus Tuan Putri ajukan. Mintalah kepadanya untuk dibuatkan lubang pada sebuah batu keramat yang tingginya setara dengan tubuh manusia. Katakan saja kepadanya kalau batu keramat itu akan kalian gunakan untuk berbulan madu. Batu itu harus diselesaikan dalam waktu tiga hari dan diletakkan di pesisir pantai,” ujar Ki Pande.
Ki Pande menambahkan, “Perlu Tuan Putri ketahui, kesaktian seseorang akan hilang jika ia melubangi sebuah batu keramat. Setelah kesaktian Pangeran Cunihin hilang, biar hamba yang akan membereskannya. Untuk menjalankan rencana ini, Tuan Putri harus ikut ke tempat tinggal hamba. Apakah Tuan Putri bersedia?”
“Baiklah Ki Pande, aku bersedia. Terima kasih banyak atas saranmu,” ujar Putri Arum.
Putri Arum pun ikut ke tempat tinggal Ki Pande. Tempat tinggal Ki Pande sangat jauh. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Putri Arum yang tidak biasa berjalan jauh, tampak sangat kelelahan. Tepat ketika sampai di desa tempat tinggal Ki Pande, Putri Arum sudah tidak kuat berjalan lagi dan akhirnya jatuh pingsan.
Para penduduk membantu Ki Pande menolong Putri Arum. Seorang tetua di kampung itu mengatakan bahwa Putri Arum akan kembali sadar jika diberi minum air gunung yang berasal dari batu cadas.
Beberapa penduduk langsung mencari sumber air itu. Sesaat, setelah meminum air yang berasal dari batu cadas, Putri Arum langsung sadarkan diri. Setelah kejadian itu, ia dikenal sebagai Putri Cadasari.
Sementara itu, Ki Pande sibuk membuat sebuah gelang yang akan digunakan untuk menghancurkan Pangeran Cunihin. Gelang tersebut dibuat sebesar batu keramat dan akan diletakkan tepat pada lubangnya. Jika Pangeran Cunihin melewatinya, seluruh kesaktiannya akan hilang.
Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pangeran Cunihin yang sangat sakti mengetahui keberadaan Putri Cadasari di tempat tinggal Ki Pande. Pangeran Cunihin langsung menagih janjinya untuk menikahi Putri Cadasari.
Putri Cadasari mengajukan persyaratannya kepada Pangeran Cunihin. Dengan sombong, Pangeran Cunihin menyanggupi persyaratan itu. Belum sampai tiga hari, batu keramat berlubang itu telah siap dan sudah diletakkan di pesisir pantai.
Putri Cadasari sangat gelisah karena Pangeran Cunihin dengan mudah menyelesaikan persyaratan yang ia ajukan. Ki Pande lalu menyuruh Putri Cadasari agar meminta Pangeran Cunihin untuk melewati lubang di batu keramat. Ki Pande telah meletakkan gelang saktinya pada lubang batu itu.
Pangeran Cunihin melakukan apa yang diminta oleh Putri Cadasari. Setelah melewati lubang di batu keramat itu, seluruh kekuatan dan kesaktian Pangeran Cunihin langsung hilang. Tiba-tiba, ia berubah menjadi seorang lelaki tua.
Bersamaan dengan itu, Ki Pande juga berubah menjadi seorang lelaki tampan.
Putri Cadasari bingung melihat kejadian itu.
Ki Pande lalu menjelaskan, “Tuan Putri, sesungguhnya aku adalah seorang pangeran yang dikutuk oleh Pangeran Cunihin. Dahulu, kami bersahabat. Namun, Pangeran Cunihin menjadi jahat setelah mendapatkan kesaktian dari seorang guru. Ia lalu mencuri kesaktianku dan mengubahku menjadi seorang lelaki tua.
Kesaktianku akan kembali jika Pangeran Cunihin melewati gelang buatanku yang diletakkan pada batu keramat.”
Putri Cadasari sangat berterima kasih kepada Pangeran Pande Gelang karena telah menyelamatkannya. Singkat cerita, mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.
Tempat Pangeran Cunihin menemukan batu keramat itu kini bernama Kramatwatu. Dan batu keramat yang telah berlubang itu dinamakan Karang Bolong.
Bukit Manggis yang dijadikan tempat bagi Putri Cadasari untuk menenangkan diri dinamakan Kampung Pasir Manggu. Nama itu berasal dari bahasa Sunda manggu yang artinya manggis dan pasir yang artinya bukit.
Sedangkan tempat Putri Cadasari disadarkan dari pingsannya dinamakan Cadasari. Cadasari terletak di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang. 
Versi lainnya lagi

Kisah Pandeglang menurut Juru Kunci Makam Kibuyut Papak ,Tubagus Mohammad Rafiudin demikian ia menyebut nama dirinya.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah menjadi kuncen atau juru kunci dimakam ini sejak 9 tahun yang lalu. Sebelumnya tugas mengurus makam ini dipegang oleh kakeknya Abdul Rojak yang kemudian diteruskan oleh Abdul Jawad, dan sekarang dirinyalah yang menjadi kuncen di makam ini.
Kibuyut Papak menurutnya mempunyai nama lengkap Raden Purba Jaksa Papak Agung Medang Singa Jaya Gumelar adalah murid dari Syekh Abdul Jabar yang makamnya terletak di Jalan AMD sekarang . “Untuk mengetahui siapa tokoh Kibuyut Papak, harus menceritakannya dari awal, sehingga akan nampak keterkaitannya dengan nama Pandeglang yang sekarang digunakan untuk daerah ini” lanjutnya.
           
Sebelum membaca kisah ini, perlu jelaskan bahwa kisah ini hanyalah merupakan cerita yang disampaikan oleh Sang Kuncen atau Juru Kunci yang mungkin akan jauh dari Fakta Sejarah. Oleh karena itu, perlu mengingatkan bahwa kisah ini adalah hanya sekedar mitos dan legenda yang dipercaya oleh masyarakat, Bukan Fakta Sejarah yang didukung oleh bukti-bukti sejarah.

Konon di Pandeglang terdapat sepasang suami istri yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Kedua orang tersebut adalah Ki Jagur dan Nyi Amuk, saking saktinya kedua orang ini, sehingga menarik perhatian Sultan Hasanudin yang saat itu menjabat sebagai Sultan Banten untuk meng-Islamkan mereka. “Saking saktinya orang ini, akhirnya Sultan Hasanudin pun meminta bantuan bapaknya Syarif Hidayatullah. Akhirnya dibantu dengan Syarif Hidayatullah, ia dapat menandingi kesaktian suami istri tersebut, akibat tidak tahan dengan perlawanan yang diberikan Sultan Hasanudin, kedua orang tersebut menyingkir dan kabur ke daerah Pantai Carita sekarang” .
Tahun berganti tahun, akhirnya kekuasaan Kesultanan Banten pun semakin terjaga. Saat Banten akan diserang oleh Belanda, tiba-tiba dari arah Barat Kesultanan Banten terdengar dentuman keras yang berbunyi secara terus menerus. Sultan yang saat itu mendengar suara tersebut awalnya mengira Belanda telah memulai serangannya. Tapi berdasarkan keterangan penasehat-penasehatnya, mereka mengatakan bahwa Belanda tidak akan mungkin menyerang Kesultanan Banten dari Pantai Carita, ini terlalu jauh ujarnya.
Akhirnya Sultan Hasanudin menugaskan beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki suara apakah itu. Maka berangkatlah utusan-utusan sultan ini kearah Carita, ketika sampai ditempat itu, rombongan terkaget-kaget karena suara yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras ini, ternyata berasal dari sebuah benda yang tidak berwujud. Mereka tidak dapat menjelaskan benda apakah itu, rombongan kemudian kembali kesultanan Banten sambil menceritakan hal ini kepada Sultan.
Akhirnya Sultan meminta bantuan Syekh Abdul Jabar (tokoh penyebar agama Islam didaerah Pandeglang) dan 40 orang kepercayaannya untuk mendampinginya membawa kedua benda itu. Dengan dibantu Syekh Abdul Jabar akhirnya Sultan Hasanudin berhasil membawa kedua benda tersebut. Ada kisah unik saat Sang Sultan dan Syekh Abdul Jabar diperjalanan, mereka sering berhenti ditengah perjalanan untuk istirahat, anehnya saat rombongan istirahat semua pohon yang berada disekitar tempat tersebut tiba-tiba mendadak mati, sekarang daerah tersebut dinamakan Kadu Paeh (paeh=mati). Perjalanan dilanjutkan dan saat rombongan istirahat lagi, kejadian terulang lagi, kali ini pohon-pohon yang terletak dikedua barang tersebut tumbang dengan tiba-tiba, tempat tersebut sekarang disebut orang dengan Kadu Bungbang (Bungbang=tumbang).
Akhirnya dengan usaha Syekh Abdul Jabar, diketahuilah bahwa sebenarnya kedua barang itu adalah merupakan penjelmaan dari Ki Jagur dan Nyi Amuk. Setelah berkomunikasi secara gaib, Syekh Abdul Jabar , maka diketahuilah bahwa Ki Jagur akan rela dibawa ke kesultanan Banten jika Hasanudin memberikan sebuah gelang untuk istrinya Nyi Amuk. Maka disepakatilah bahwa Sultan akan memberikan gelang tersebut sesaat setelah sampai di Keraton Kesultanan Banten.
Setibanya di Keraton Kesultanan Banten, Sultan Hasanudin mengumpulkan beberapa pandai besi (pande) untuk membuat gelang permintaan tersebut, tapi tidak satupun yang sanggup membuat gelang pesanan itu. Akhirnya atas saran Syekh Abdul Jabar, Sultan menugaskan seorang murid dari Syekh Abdul Jabar yang bernama Kibuyut Papak untuk membuat gelang itu.
Kibuyut Papak pun menyanggupi perintah ini, Ia sanggup melaksanakan tugas yang diberikan Sultan dan gurunya ini. Awalnya ia mencari bahan untuk membuat gelang tersebut di sebuah rawa yang sekarang disebut Sawah Ranca oleh masyarakat, letaknya di daerah Kampung Kabayan Cikole.

Batu Ngamprak
Setelah ia temukan bahannya, Kibuyut Papak segera membakar bahan tersebut pada sebuah batu yang oleh masyarakat disebut Batu Ngamprak, batu bekas membakar bahan itu pun dipercaya lokasinya terdapat di daerah Kampung Kabayan Cikole.

Batu Belah
Kemudian setelah bahan tersebut dibakar, Kibuyut Papak mencoba untuk mulai memukul-mukulnya, layaknya seorang pande. Bahan yang telah dibakar tersebut diletakan pada sebuah batu, untuk dibentuk menjadi sebuah gelang, karena kekuatan bahan gelang tersebut, batu itu tidak dapat menahannya, oleh karena itu sampai sekarang batu tempat meletakan bahan gelang
itu oleh masyarakat disebut dengan Batu Belah.

Citaman
Proses berikutnya, Kibuyut Papak memerlukan tempat yang terdapat cukup air untuk mendinginkan gelang yang telah dibuatnya. Dan untuk mencelupnya, Kibuyut Papak menuju ke daerah Citaman yang masih terletak di Kelurahan Kabayan.
Kibuyut Papak akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, gelang yang telah ia buat, ia serahkan kepada Sultan. Atas jasanya Sultan Hasanudin akhirnya mengangkat Kibuyut Papak sebagai penasehatnya. Dan tempat dimana ia membuat gelang tersebut sekarang dikenal dengan nama Pandeglang yang berasal dari dua suku kata Pande dan Gelang.
Itulah kisah atau cerita yang disampaikan Juru Kunci atau Kuncen Makam Kibuyut Papak.

Sejarah Caringin dan Pdaneglang


Sejarah Caringin dan Pdaneglang

Mungkin belum banyak yang tahu tentang sejarah Caringin dan Pandeglang.
Seperti kita ketahui bersama bersama bahwa pada tahun 1883 pernah terjadi letusan gunung Krakatau yang menghancurkan Caringin. Waktu itu Caringin merupakan ibu kota Kabupaten Banten Barat.
Setelah Caringin luluh lantak pusat ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.
Caringin kini hanya sebuah desa, meski sejak itu Caringin terdegradasi menjadi desa, bagi perjalanan sejarah Banten, Caringin tetaplah daerah penting. Caringin, menurut Syaukatuddin yang mengutip dari para kasepuhan, berasal dari kata beringin, yang berarti ’pohon rindang tempat berteduh’.
Mengikuti perkembangan pembagunan Caringin mulai ramai kembali dan pada tahun 2006 terbentuklan Kabupaten Caringin.
Pada tahun 2006 Kabupaten Caringin adalah salah satu calon wilayah otonom di Provinsi Banten. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Pandeglang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah Barat Kabupaten Pandeglang untuk mensejahterakan masyarakat.
Pada 14 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pandeglang menyetujui terbentuknya Kabupaten Caringin & Kabupaten Cibaliung. Calon kabupaten otonom ini terdiri atas 7 kecamatan, yakni Kecamatan Labuan, Kecamatan Carita, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Jiput, Kecamatan Cikedal, dan Kecamatan Sukaresmi. Wilayah ini berpenduduk sekitar 208.138 jiwa.
Diperjalanan proses peresmian dilakukan pengkajian dan disimpulkan jika Kabupaten Cibaliung dan Caringin mendapat persetujuan maka kemungkinan hal tersebut akan mematikan Kabupaten Induk-nya. Maka sesuai Undang-undang pemekaran wilayah tersebut tidak di perbolehkan mematikan daerah Induknya. Menurut beberapa pakar otonomi mungkin yang dapat dilakukan adalah dengan hanya menyetujui salah satu daerah pemekaran saja diantara dua wilayah yang akan di mekarkan tersebut dan yang disetujui hanya Kabupaten Caringin.

Sejarah labuan, pandeglang


Sejarah labuan, pandeglang         
Kacamatan Labuan
Labuan adalah daerah di pesisir laut di selat sunda merupakan daerah yang strategis didaerah pesisir. Bukti dari daerah itu strategis biasa di lihat dari peninggalan atau merupakan situs sejarah sisa perang dunia ke dua yaitu adanya dua bangunan benteng pertahanan sisa perang zaman Jepang. dimana tempat sejarah itu didaerah Kalurahan Desa Teluk, dengan di daerah kelurahan Desa Cigondang. adanya dua tempat sejarah itu jelas merupakan bukti Jepang memilih daerah Labuan sebagai tempat yang pas untuk diduduki, sebab banyak daerah lain yang sama adanya dipinggir laut. tapi Labuan yang pas di pakai penjajah.bahkan banyak sisa zaman dahulu di daerah labuan. yaitu: benteng jembatan dua, benteng loterdam, dan kereta api.

Selat Sunda
Pada permulaan sejarah Jawa tercatat bahwa pada tahun 416 S.M. Selat Sunda terbentuk selama periode puncak kegiatan vulkanis yang membentuk lorong laut di antara dua pulau yang saat ini dikenal sebagai Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Selat ini dahulu tidak dikenali oleh para pelaut Eropa sampai pada tahun 1595, setelah itu menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar antara barat dan timur.

Mercusuar di Tajung Layar
Bangunan mercusuar di Tanjung Layar mewakili suatu periode yang sangat penting dalam sejarah maritim Indonesia dan sejarah kolonial. Dahulu mercusuar di lokasi ini dijadikan "Ujung Pertama" karena geografinya yang strategis, sebagai petunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.

Sebuah Dermaga di Cibom
Pada tahun 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda merencanakan membangun sebuah pelabuhan laut di daerah Cibom.
Sultan Banten dengan berat hati menyediakan para pekerja tetapi karena para pekerja banyak yang sakit dan menderita bahkan diantaranya banyak yang meninggal dan yang tersisa pun menjad           i lemah disebabkan "uap beracun yang berasal dari lahan kerja baru". Kemudian mereka melarikan diri dari daerah tersebut. Pelabuhan ini tidak pernah terselesaikan.
Pada masa itu pula Tanjung Layar menjadi lokasi tempat penjara dari para bajak laut yang membantu Sultan, dan mercusuar pertama dibangun .
Daerah Cibom - Tanjung Layar
Sisa-sisa dermaga Cibom masih dapat dilihat dengan adanya formasi batu bata dan tiang besi pancang.
Disepanjang jalan menuju Tanjung Layar (dari Cibom) terdapat pal-pal batu petunjuk jarak, sumur-sumur air, kuburan-kuburan dan sisa bangunan pasangan batu bata.
Terdapat juga sebuah tangga batu bata menuju ke lokasi mercusuar yang pertama dengan tinggi 40 meter, menjorok ke arah laut.

Mercusuar Pertama
 bahwa mercusuar pertama dibangun, pada awal tahun 1800. Sebagian fisik bangunannya terbuat dari batu asli. Pada tahun 1880, bagian atas mengalami kerusakan yang parah akibat gempa bumi. Mercusuar runtuh sesudah letusan Gunung Krakatau tahun 1883,dan bagian dasarnya yang bundar sekarang menjadi tempat tangki air besar. Sisa-sisa tangga batu yang melingkar dapat dilihat di kompleks bawah.

Mercusuar Kedua
Mercusuar kedua ini di bangun dari kontruksi baja dan dilengkapi sebuah lampu gas dengan ketinggian 25 meter.

Mercusuar Ketiga
Mercusuar yang ada sekarang dibangun pada tahun 1972.Terletak 500 meter sebelah timur Tanjung Layar (dari mercusuar yang lama) dengan tinggi 40 meter (atau 65 meter di atas pemukaan laut) lampunya dapat dilihat dari jarak 25 mil laut. Di seberang Selat Sunda di Pantai Sumatera, terdapat juga sebuah mercusuar yakni mercusuar Blimbing (Vlakke Hocke) yang berjarak 110 km jauhnya.
Sebuah kelompok terdiri dari 5 orang petugas menjaga mercusuar ini, dengan jadwal kerja 4 bulan untuk satu periode. Walaupun sebuah kebun di buat di lokasi, namun semua bahan makanan pokok dan keperluan lainnya dikirimkan melalui kapal laut. Mercusuar ini dioperasikan oleh Departemen Perhubungan.
Silahkan memintakan izin dari petugas mercusuar sebelum memasuki daerah mercusuar.

Gelombang Pasang Tahun 1883
Pecahnya Pulau Jawa
Dari Sejarah awal Ujung Kulon, tulisan Orang Jawa
"Pada tahun 416 S.M. Gunung Kapi (Krakatau) dengan suatu gemuruh yang dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke dasar bumi. Air laut naik dan menggenangi daratan, setelah air surut gunubng dan daerah sekitarnya menjadi laut dan Pulau Jawa terbagi menjadi dua bagian". (Buku Raja-Raja)
Terjadinya Letusan Gunung Krakatau
Pada tanggal 27 Agustus 1883, setelah abad yang relatif tenang, gunung berapi Krakatau meletus dengan dahsyat.
Penjaga mercusuar Tanjung Layar mencatat kejadian ini dalam buku hariannya:
Senin, 27 Agustus
Jam 06.00 pagi, suasana belum terang, lampu mercusuar masih menyala.
Jam 09.00 pagi, cuaca menjadi buruk dan sangat gelap.
Jam 11.00 pagi (kemungkinan lebih awal), letusan dahsyat terdengat, pintu-pintu serta jendela-jendela terbuka dan petir menyambar bangunan-bangunan.
Jam 11.10 pagi, petir menyambar tiang penangkal petir dan rusak, setelah itu petir menyambar pintu masuk mercusuar, melukai 4 dari 10 narapidana.
Selasa, 28 Agustus
Suasana terang pada jam 06.00 pagi dan untuk pertama kalinya diketahui bahwa daerah pantai rusak. Gelombang besar belum diketahui karena gelap didalam mercusuar.
Tanjung Layar, terlindung dari akibat gelombang besar yang tingginya antara 7 sampai 10 meter. Dari tiga dusun kecil di dekat garis pantai, 120 orang telah diselamatkan, disaat mereka mengungsi ke mercusuar, tetapi 14orang meninggal dunia.
Gelombang Pasang
Gelombang pasang yang menghantam garis pantai Selat Sunda, bukanlah suatu gelombang tunggal tetapi suatu seri gelombang yang susul menyusul selama beberapa jam.
Gelombang pasang terbesar, dimana bersamaan dengan letusan gunung Krakatau mencapai intensitas maximum pada jam 10.00 pagi, tanggal 27 Agustus 1883.
Diperkirakan bahwa pada awal kejadian, air laut naik kira-kira setinggi 30-40 meter dengan waktu tempuh kira-kira 35 menit untuk mencapai Tanjung Layar, dan pergerakan tersebut mencapai kecepatan 600 km/jam melintas ke Lautan Hindia.

Akibat Gelombang Pasang
Lebih dari 36.000 orang binasa akibat letusan tersebut, sebagian besar diakibatkan oleh gelombang pasang yang menerjang sampai sekitar 10 km ke daratan. Kapal uap "Berouw" terdampar ke daratan sejauh 2,5 km.

Pengaruh terhadap Dunia
Akibat dari letusan Gunung Krakatau telah dicatat di seluruh dunia:
Suara letusan terdengar disepertigabelas permukaan bumi dari yang paling jauh di barat pada Kepulauan Mauritius (4.800 km) ke Australia Selatan (3.200 km).
Selama dua hari debu letusan jatuh di pantai Afrika Utara.
Gelombang pasang menerjang sepanjang 8.700 km, mencapai Port Elizabeth di Afrika Selatan.
Fluktuasi pasang tercatat di dalam Terusan Inggris sejauh 17.800 km.
Kenaian tekanan atmosfer tercatat pada barometer sebesar 7 kali di seluruh dunia.
Debu di dalam atmosfer membuat kegelapan yang luar biasa di seluruh dunia.
Sejumlah besar batu terapung-apung di atas permukaan laut, dan masih terus ditemui pada tahun 1885.
Letusan Krakatau pada tahun 1883, walaupun lebih kecil dari letusan-letusan sebelumnya, menunjukan kejadian yang paling mencekam sepanjang sejarah.

Pengaruh di Ujung Kulon
Catatan harian Kapal "Bay of Naples" melaporkan:
"... pada jarak 120 mil dari Ujung Pertama Pulau Jawa (Tanjung Layar) selama gangguan letusan ... ditemukan bangkai-bangkai binatang termasuk bangkai-bangkai harimau ... di samping batang-batang kayu besar".
Sebagian besar hutan pantai dan rawa-rawa mangrove hancur. Walaupun demikian pertumbuhan kembali hutan Ujung Kulon sangat cepat dan menjadikan hutan yang lebat dan merupakan habitat yang ideal bagi badak bercula satu.